Saya Tidak Menonton Konser Dangdut, karena Saya Sok Suci

0
96

Masih kuat sekali gambaran tentang dangdut yang terbentuk sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar, 15 tahunan lalu: musik yang identik dengan mbak-mbak yang menggoyangkan pinggul dan dadanya, berpakaian ketat, sembari melantunkan lirik yang kadang menggoda.

Guru saya waktu itu “yang tampak paham bahwa beberapa di antara kami mulai bias bersyahwat tapi kemungkinan belum tahu cara mengontrolnya” langsung berfatwa bahwa, Menonton konser dangdut (dengan penggambaran yang saya sebutkan di atas) adalah dosa.

Wajar, karena kebetulan tempat saya menuntut ilmu kala itu merupakan lembaga pendidikan bernapaskan Islami. Saya pun patuh, karena waktu itu saya juga belum menemukan kebahagiaan dari menonton biduan dangdut. Mungkin, ada sedikit pengaruh dari tanda-tanda akil balig saya yang baru tiba saat SMP “di samping menonton artis JAV menurut saya lebih menyenangkan dan aksesnya lebih mudah. Jadi,ya, maklumi saja kalau saat itu saya masih mematuhi pesan beliau.

Gara-gara anjuran itu, kisah saya dengan dangdut menjadi terbatas. Sangat terbatas, malah. Sejak kecil, saya tidak pernah punya niat yang 100 persen bulat untuk menonton konser dangdut secara langsung. Ketersediaan VCD atau DVD lagu-lagu dangdut di lapak-lapak dekat rumah pun tak memengaruhi kegemingan saya. Praktis, sayapun tidak banyak mengenal apalagi mengidolakan musisi dangdut (ngomong-ngomong, saya masih kesulitan membedakan Via Vallen dan NellaKharisma, bias bantu saya?).

Lingkungan saya menunjangketidakacuhan ini juga. Mama saya lebih suka mendengarkan Queen atau Michael Learns to Rock. Sementara bapak kalau nyetel radio ya butuh info lalu lintasnya saja, bukan musik, walaupun kanal radionya sering diputar di dalam kamar dan didengarkan dalam keadaan tertidur, sih.

Teman-teman sepermainan? Lebih loyal menonton konser punk atau hard core“ yang juga seringkali saya hindari karena takut terinjak lantas meninggal saat moshing. Kan repot kalau celaka dalam keadaan belum membersihkan history browser hehehe.

Lingkungan saya menunjang ketidakacuhan ini juga. Mama saya lebih suka mendengarkan Queen atau Michael Learns to Rock. Sementara bapak kalau nyetel radio ya butuh info lalu lintasnya saja, bukan musik, walaupun kanal radionya sering diputar di dalam kamar dan didengarkan dalam keadaan tertidur, sih. Teman-teman sepermainan? Lebih loyal menonton konser punk atau hard core“ yang juga seringkali saya hindari karena takut terinjak lantas meninggal saat moshing. Kan repot kalau celaka dalam keadaan belum membersihkan history browser hehehe.

Lingkungan saya menunjang ketidakacuhan ini juga. Mama saya lebih suka mendengarkan Queen atau Michael Learns to Rock. Sementara bapak kalau nyetel radio ya butuh info lalu lintasnya saja, bukan musik, walaupun kanal radionya sering diputar di dalam kamar dan didengarkan dalam keadaan tertidur, sih. Teman-teman sepermainan? Lebih loyal menonton konser punk atau hard core“ yang juga seringkali saya hindari karena takut terinjak lantas meninggal saat moshing. Kan repot kalau celaka dalam keadaan belum membersihkan history browser hehehe.

Dalam pikiran saya, kuatnya karakter erotis pada dangdut masih sibuk bertarung dengan dogma dari guru SD saya. Aneh, padahal sebenarnya banyak pedangdut yang berpakaian sopan (tak perlu disebutkan karena Anda pasti lebih mahir menyebutkan contoh-contohnya daripada saya, kan?). Sayapun melakukan dosa-dosa lain, tetapi akal saya masih sibuk dengan urusan moralitas yang satu itu.Benar-benar aneh.

Ini minor, sih, tapi saya rasakan pertentangan terhadap dangdut makin parah karena pengaruh blonde joke yang saya konsumsi. Akibat melihat beberapa biduan berambut pirang, saya makin teguh untuk menjauhkan kuping dari dangdut karena dalam persepsi saya biduan itu enggak banget.

Salah sekali, memang, karena kategori humor itu sudah menuai kritik dari mana-mana gara-gara mendegradasi wanita. Saya memang dengan sadar mengirimkan tulisan ini ke redaksi Dangdutpro.com dan kelak kalau tulisan saya ini sampai terbit, sejatinya saya layak sekali dilempari label macam: manusia tanpa karsa seni, kelas menengah ngehe, antibudaya lokal, atau manusia sok suci. Saya tak membantahnya, karena di sini posisi saya yang memang salah.

BACA JUGA: Raja Dangdut Rhoma Irama Tolak Jadi Saksi Ahli Rizieq

Bader dan Richter, dalam Dangdut Beyond the Sex: Creating Intercorporeal Space through Nyawer Encounters in West Java, Indonesia (2014), sudah menegaskan bahwa mereduksi aksi biduan dangdut di atas panggung serta nyawer sebagai aktivitas amoral, pelecehan seksual, atau eksploitasi terhadap wanita adalah hal yang kurang tepat.

Pasalnya dalam koridor perspektif feminis yang diperkuat dengan rekognisi perspektif non-western sembari menjaga jarak dengan perspektif barat yang deterministic terhadap budaya timur para biduan dangdut itu acap tidak merasa dieksploitasi dan terkadang juga bias duduk di posisi teratas dalam diagram relasi kuasa saat pertunjukan berlangsung.

Nyawer, secara khusus, juga lebih cocok dilihat sebagai praktik sosial-kreatif, terlebih dengan heterogennya motivasi dari penyawer itu sendiri.Tapi tetap saja, aneh menanggalkan sisi erotis medangdut dalam pikiran saya.

Apabila saya ini pengamat music yang jeli, hamper bias dipastikan saya akan melontarkan kritik macam kepunyaan Fariz Alniezar di Homo Homini Humor (2019).

Gambaran erotis medangdut ia anggap telah mendegradasikan standar dalam menikmati dangdut, dari suara, turun ke wajah, sampai menjadi goyangan semata.

Dangdut, keindahannya mulanya dinilai dari sesuatu yang tak kasatmata, kini lebih cenderung menjajakan kenikmatan visual yang begitu banal.

Namun sekarang, irama dangdut di kuping sayamulai mendapatkan eksposur. Karena saya pada dasarnya sangat menyukai komedi, saya mulai mempersilakan diri ini familiar dengan lagu-lagu dangdut lewatl agu-lagu beraliran dangdut humor.

Ya, saya mulai akrab dengan Orkes Pensil Alis, yang digawangi komika Hifdzi Khoir plus Mukti Entut. Lirik humoristis plus absurd dan aksi panggung mereka yang rawan menuai cekikikan penonton mulai mendamaikan persepsi miring saya tentang dangdut.

Usai berdendang sekaligus bergoyang bersama mereka secara langsung, saya pun mulai penasaran dengan dangdut humor. Referensi dangdut humor saya bertambah sedikit-sedikit seiring perkenalan saya dengan Hamba Allah dan para legenda macam Orkes Moral Pancaran Sinar Petromak (OM PSP) serta Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR). Lagu-lagu NDX AKA dengan sambatannya yang komikal juga beberapa kali memuaskan saya.

BACA JUGA: Begini Jadinya Jika Wali Kota Malang Duet Bareng Elvy Sukaesih

Setidaknya, dari kasus saya ini, kita jadi tahu bahwa dangdut humor bias menjadi alternative pintu masuk dangdut kala ingin mempenetrasi ke pasar yang lebih luas. Mukjizat ini ternyata masih mujarab sejak era 70 dan 80-an lalu, tepatnya ketika OM PSP dan OM PMR mampu menjembatani kelas penikmat music dangdut (yang umumnya berasal dari kalangan bawah) dan penikmat music popular (yang lebihi dentik dengan kalangan menengah atas).

Humor benar-benar melemaskan tensi, terbukti. Betul, saya masih sok suci, tetapi sudah mulai joget kok kalau dengar lagu-lagu dari para grup musik yang saya sebut di atas. Sudah jadi bagian dari keluarga besar pencinta dangdut, kan ya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here