BerandaNewsHallo DangdutDikritik Lagu hanya Bertema Patah Hati, Didi Kempot: Ra sah Ditangisi, Nek...

Berita Baru

Artist

Happy Asmara

Penyanyi Dangdut

Heppy Rismanda Hendranata, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Happy Asmara adalah seorang penyanyi-penulis lagu dan aktris berkebangsaan Indonesia. Lagu bertajuk "Tak Ikhlasno" menjadi salah satu lagu karyanya yang paling populer. Namanya semakin dikenal setelah ia merilis singel bertajuk "Dalan Liyane".

Dikritik Lagu hanya Bertema Patah Hati, Didi Kempot: Ra sah Ditangisi, Nek Perlu Justru Dijogeti

DangdutPro.com, Jakarta – Didi Kempot dikenal dengan lagunya yang mencerminkan kisah percintaan hingga patah hati seseorang. Gaya dan genre musik Didi Kempot dideskripsikan sebagai campursari, Congdut, Pop Jawa, dan koplo.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Terkait penulisan lagu, Didi menuliskan lagu-lagunya dengan bahasa Jawa, dengan menyisipkan beberapa berbahasa Indonesia di dalamnya. Contohnya “daagh, selamat jalan” pada lirik lagu “Stasiun Balapan”.

Teknik penulisan yang lebih menekankan bahasa Jawa dengan sedikit memasukkan sedikit bahasa Indonesia. Hal tersebut membuat tersebut membuat Didi disebut t sebagai “penjaga bahasa dan tradisi Jawa dalam budaya populer”.

Baca Juga: Profil dan Perjalanan Karier Didi Kempot the Godfather of Broken Heart

Musisi Berpengaruh

Musik Didi Kempot dipengaruhi oleh sejumlah musisi campursari, keroncong, dan langgam Jawa. Seperti Manthous, Waldjinah, Mus Mulyadi, dengan menyertakan pengaruh dari dangdut.

Didi pernah berkata bahwa musik karya mereka kurang memberikan perhatian kepada anak muda. Sehingga ia “mencoba membuat lagu yang sekiranya anak-anak muda mau menerima.”

Kemudian ia meracik genre campursari dengan menambahkan unsur dangdut di setiap lagu ciptaannya. Lahirlah genre congdut yang dikenal hingga saat ini. Masuknya tabla dan suling bambu membuat genre ini menjadi digemari anak muda.

Baca Juga: Dory Harsa Nikahi Nella Kharisma Kagetkan Istri (Alm) Didi Kempot

Kritikan

Terkait kritikan atas singel-singelnya yang hanya bertemakan patah hati dan perpisahan. Ia menganggap bahwa patah hati itu patah hati tak perlu ditangisi, kalau bisa dijogeti.

“Ra sah ditangisi, nek perlu justru dijogeti (tidak usah ditangisi, kalua perlu malah dijogeti),” ujarnya.

Walau begitu, ada beberapa lagu yang sama sekali tidak bertemakan patah hati, misalnya lagu terakhirnya “Ojo Mudik”. Lagu yang berisi imbauan bagi masyarakat untuk tidak mudik, menjaga jarak, mencuci tangan, serta tetap belajar, bekerja dan beribadah dari rumah hingga pandemi koronavirus benar-benar berakhir di Indonesia.

Baca Juga: Simbol Perjuangan Rakyat, Didi Kempot Terima Taruna Merah Putih Award

Belajar Islam Bersama Gus Miftah

Selama belajar ilmu agama Islam bersama Gus Miftah, ia juga pernah merekam lagu “Islam Nusantara” karya Muslih untuk Nahdlatul ‘Ulama (NU).

Tokoh-tokoh yang banyak mengutip atau membagi pengaruh bermusiknya pada Didi Kempot kebanyakan berada di jalur campursari dan koplo seperti Nur Bayan, Denny Caknan, Sonny Josz, Ndarboy Genk, Dory Harsa, Hendra Kumbara, Cak Diqin, dan Dimas Tedjo “Blangkon”.

Idola milenial

Hingga meninggal dunia Didi Kempot masih menjadi salah satu idola kaum milenial yang akrab dengan media sosial.

Sebagai penyanyi senior, ia memperlakukan penggemar layaknya sahabat. Dia bahkan tidak ragu mengajak penggemarnya bernyanyi bersama di atas panggung.

Dia juga sering memberikan motivasi kepada penggemarnya agar tidak menyerah untuk berkarya.

Oleh penggemar kalangan muda, ia diberi gelar “The Godfather of Broken Heart” alias “Bapak Patah Hati Nasional”. Karena kepiawaiannya membawa pendengar larut dalam emosi ketika mendengarkan lagunya.

Baca Juga: Godfather of Broken Heart Didi Kempot Meninggal Dunia

Sobat Ambyar

Sobat Ambyar bisa dibilang fans base bagi penggemar Didi Kempot dari berbagai daerah. Komunitas ini semakin eksis seiring semakin naiknya popularitas Lord Didi (sebutan Didi Kempot untuk Sobat Ambyar).

Keberadaan Sobat Ambyar membuat para penggemar karya Didi Kempot menjadi lebih terorganisir. Sebelumnya “Kempoters” adalah sebutan untuk penggemar Didi Kempot. Namun, sebutan tersebut berkembang dikalangan anak muda menjadi “Sad Boys” (untuk laki-laki) dan “Sad Girls” (untuk perempuan).

Mayoritas penggemar Didi Kempot yang tergabung dalam komunitas Sobat Ambyar adalah generasi muda. Dengan Begitu menunjukkan bahwa karya Didi Kempot diminati lintas generasi.

Komunitas Sobat Ambyar awal terbentuk melalui sebuah acara Musyawarah Nasional Pengukuhan Awal yang diselenggarakan di Surakarta. (ark)

Populer

Populer Minggu Ini