BerandaNewsJerit Seniman Dangdut Kota Semarang di Musim Pandemi, Biduan Jadi Penjual Sosis...

Berita Baru

Artist

Happy Asmara

Penyanyi Dangdut

Heppy Rismanda Hendranata, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Happy Asmara adalah seorang penyanyi-penulis lagu dan aktris berkebangsaan Indonesia. Lagu bertajuk "Tak Ikhlasno" menjadi salah satu lagu karyanya yang paling populer. Namanya semakin dikenal setelah ia merilis singel bertajuk "Dalan Liyane".

Jerit Seniman Dangdut Kota Semarang di Musim Pandemi, Biduan Jadi Penjual Sosis Hingga Diceraikan

DangdutPro.com, Semarang – Seniman Dangdut Kota Semarang, Yoyok tak bisa berkata-kata banyak. Dia hanya berharap bisa bekerja seperti sediakala. Alat sound system untuk dia kerja terpaksa dia jual dengan harga murah. Keputusan itu  semata-mata untuk menyambung hidup keluarganya.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Yoyok merupakan soundman yang biasa mengiringi seniman dangdut di Kota Semarang. Sebelum pandemi, dalam satu bulan dia bisa muter hingga lima belas tempat. Namun, pandemi saat ini nasibnya benar-benar tamat.

Tak tau lagi, apa yang harus dia lakukan. Bahkan, nasib dua buah hatinya yang sedang menempuh pendidikan di sebuah sekolah menengah swasta di Kota Semarang di ujung tanduk. 

BACA JUGA: Ini Sosok Joelina Bee, Pedangdut dari Amerika Serikat

“Saya tak bisa membayar sekolah anak saya lagi. Barang-barang berharga sudah habis saya jual,” jelasnya dikutip dari Nusadaily.com, Jumat, 15 Januari 2020.

Yoyok tak sendirian, teman-temannya yang satu profesi sebagai sound system di Kota Semarang juga mengalami nasib yang sama. Satu tahun ini, dia dan teman-temannya benar-benar menganggur. 

“Di Semarang kan ada komunitasnya ya, semua juga merasakan nasib yang sama,” ucapnya. 

Perwakilan Komunitas Seniman Dangdut Kota Semarang, Dodik menjelaskan jika nasib para seniman di Kota Semarang tak kalah miris. Teman-temannya ada yang terpaksa beralih profesi. 

Bahkan, beberapa biduan musik dangdut di Kota Semarang terpaksa beralih profesi menjadi menjadi penjual sosis. Meski sudah berusaha untuk jualan sosis, namun banyak juga gulung tikar karena banyak saingan. 

“Banyak yang alih profesi namun juga banyak yang gulung tikar. Kan banyak saingan,” imbuhnya. 

Tak hanya para biduan yang alih profesi  namun, teman-temannya yang biasa memegang alat musik seperti gitar juga banyak yang menjadi tukang bangunan. Namun, banyak juga yang menganggur. 

“Iya banyak yang alih profesi memang namun ya banyak yang nganggur karena tak bisa diandalkan,” imbuhnya. 

Meski banyak yang alih profesi  banyak juga teman-temannya yang gulung tikar. Menurutnya, banyak teman-temannya yang bingung. 

“Bagaimana tak bingung, alat-alat sudah dijual untuk modal namun banyak juga yang gulung tikar,” keluhnya. 

Bahkan karena kesulitan mencari nafkah, permasalahan merambah ke keluarga. Dia tak memungkiri, banyak teman-temannya yang mempunyai permasalahan dalam berkeluarga.

“Banyak yang diceraikan. Permasalah ini benar-benar kacau,” ucapnya. 

Menurutnya, para seniman sudah berusaha untuk bertahan hidup. Andai kondisi seperti ini masih berlanjut, tak terbanyangkan bagaimana nasib para seniman di Kota Semarang. 

“Kita sudah bertahan hingga darah terakhir, ” katanya. 

Untuk itu, dia berharap kepada pemerintah agar memberikan solusi kongkrit agar para seniman di Kota Semarang dapat bertahan. Setidaknya, dalam waktu seniman yang ada di Kota Semarang dapat kerja lagi. 

“Setidaknya para seniman diperbolehkan bermain musik di acara hajatan seperti pernikahan,” imbuhnya. 

Namun sampai saat ini para seniman di Kota Semarang takut memakai jasa hiburan lantaran kelompok musiknya takut dibubarkan pihak Kepolisian. Padahal 90 persen penghasilan para seniman dangdut berasal dari acara hajatan. 

“Ada ketakutan di masyarakat ketika ada hajatan ingin menyewa kelompok musik untuk memberi hiburan tamu. Mereka takut hajatan dibubarkan,” ungkapnya. 

Menurutnya, jika yang dipersoalkan kepolisian adalah protokol kesehatan maka pihaknya bisa membuktikan bahwa dapat mematuhi protokol kesehatan ketat. Seniman di Kota Semarang bersedia senantiasa mengikuti aturan pemerintah maupun kepolisian.

“Kepolisian selalu menyasar bahwa warga kalangan bawah yang menyelenggarakan acara hajatan menimbulkan penularan Covid-19. Bagaimana di tempat lainnya yang menyelenggarakan keramaian seperti di hotel, kafe dan tempat lainnya. Seharusnya adil dan bijak dalam menegakan aturan,” terangnya. 

Untuk itu, ia berharap pemangku jabatan seperti Pemerintah, Kepolisian, TNI dan lainnya yang tergabung di Gugus Tugas Covid-19 mampu menegakan protokol kesehatan dengan tegas dan adil. 

“Warga butuh jaminan agar mereka tenang ketika menyewa kami. Para pemangku juga bisa memeriksa ketika hajatan,” imbuhnya.(sre)

Advertisements

Populer

Populer Minggu Ini