Dangdut dan Rakyat

0
128

Kata rakyat selalu mengusik ketika diucapkan. Siapa sebenarnya yang disebut rakyat itu? Apabila kita memakai definisi negara modern, rakyat (people) adalah penduduk suatu negara, unsur penting suatu pemerintahan. Artinya, semua penduduk Indonesia adalah rakyat Indonesia. Tetapi, ternyata dalam keseharian, pemaknaan kita tentang rakyat ini berbeda. Kata rakyat hanya disematkan pada kelompok ekonomi bawah.

Ini kalau ditelusuri sesungguhnya berasal dari budaya borjuis yang mengelaskan orang menjadi golongan elit dan rakyat kebanyakan. Dalam budaya feodal Jawa, mereka yang bukan priyayi dianggap masyakat kelas bawah.

Dangdut kerap disebut sebagai musik rakyat. Dalam definisi itu, berarti musik kelompok masyarakat ekonomi bawah. Salah satu unsurnya yang bisa kita temukan ada dalam judul dan lirik. Dangdut menceritakan problematika masyarakat kelas pekerja, tidak ada idealisme cinta khas kelas menengah kota.

Nasib Janda, Perawan atau Janda, Bojo Galak, memperlihatkanproblematika sehari-hari kelas pekerja itu. Meskipun punya bojo galak bisa terjadi pada siapa saja. Namun etiket kelas menengah kota tak mengijinkan ekspose semacam itu secara terbuka.

BACA JUGA: Dangdut, Genre Musik Kekayaan Yang Senantiasa Baharu

Dangdut menjadi saksi pergeseran karakter politik kita dari masa Orde Baru menuju Reformasi. Politik jaman Pak Harto bercitarasa feodal Jawa. Fusi partai-partai menjadi merah kuning hijau dahulu, menegaskan teori Clifford Geertz tentang tiga kelompok sosial di Jawa: priyayi, santri, abangan.

Pada jaman Pak Harto, birokrasi Indonesia sangat kental dengan priyayiisme. Mulai sifat patron-klien, perintah halus, hingga pertunjukan wayang kulit di istana. Dalam buku ABRI: Siasat Kebudayaan 1945-1995.

Pernyataan KASAD Jendral Wismoyo sangat khas dengan ciri birokrasi-priyayi ini: Teladan (seorang prajurit) diperlukan di tengah-tengah massa-rakyat yang tidak tahu apa-apa. Massa-rakyat dianggap anak-anak yang beluminsyaf dan belumdewasa untuk berkorban demi kepentingan yang lebih besar (Susanto & Supriatma, 1995:55).

Ketika jaman Reformasi bergulir, tiba-tiba saja kata rakyat terdengar begitu ampuh. Saking ampuhnya, mendadak semua orang berlomba-lomba memperlihatkan keberpihakannya pada dangdut yang dianggap sebagai representasi rakyat.

Bahkan, Presiden SBY sampai harus menyampaikan pernyataan pers panjang x lebar untuk mengklarifikasi tuduhan tidak menyukai musik dangdut (news.detik.com, 16 Januari 2013).

Rakyat, yang oleh elit pada masa sebelumnya dianggap massa yang tidak tahu apa-apa dan belum dewasa itu, kini disanjung-sanjung sebagai bagian terpenting demokrasi. Sampai-sampai seorang presiden tidak berani bilang.

Saya tidak suka dangdut, karena akan dituduh tidak pro-rakyat. Bandingkan misalnya, bila ada yang berkata Saya tidak suka pop atau saya tidak suka jazz, pasti orang akan bersikap biasa-biasa saja.

BACA JUGA: Ini Sosok Joelina Bee, Pedangdut dari Amerika Serikat

Lalu, bila kini kita sudah melalui beberapa kali pemilu, dan dangdut sudah masuk tivi dan naik pamor, apakah dangdut masih tetap diposisikan sebagai musik rakyat?.

Atau mungkin nanti, seperti genre-genre musik lainnya, akan ada hirarki atau oposisi, seperti mayor vs indie, penyanyi label vs penyanyi kafe; bila melihat perkembangannya, jangan-jangan akan muncul dangdut elit (setara Inul yang sekarang) vs dangdut yang tidak elit (setara Inul saat masih ngebor di Surabaya)?.

BACA JUGA: Raja Dangdut Rhoma Irama Tolak Jadi Saksi Ahli Rizieq

Kalau dangdut kontemporer sudah begitu komersial, grande, dan masuk gedung-gedung mewah, apakah nanti dia masih akan bisa disebut musik rakyat, yang menjadi representasi rakyat kebanyakan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here